Selasa, 22 April 2014

Optimis menjadi Manusia


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Malaikat yang tercipta dari cahaya dan kita anggap sangat mulia pun diperintahkan bersujud kepada Nabi Adan as. Bahkan jin yang tercipta dari api pun diperintahkan untuk bersujud kpada Nabi Adam as namun karena kesombongannya, ada sebagian yang tidak mau bersujud yaitu iblis.

Malaikat memang selalu taat kepada Allah dan dijamin masuk surga, namun malaikat tidak punya nafsu untuk melakukan hal yang lain yang dapat meningkatkan pahalanya. Mereka diciptakan memang hanya untuk mengabdi pada Allah dengan tugas-tugas tertentu yang sudah ditentukan oleh Allah dan mereka tidak bisa melakukan tugas lain yang tidak diperintahkan oleh Allah.

Namun berbeda dengan manusia, manusia dikaruniai nafsu untuk melakukan apa pun di dunia ini. Manusia juga dikaruniai hati dan akal untuk mengontrol nafsu tersebut agar bisa mendorong dirinya untuk selalu meningkatkan ibadahnya kepada Allah agar mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya.

Dengan kelebihan nafsu, akal, dan hati itulah manusia mendapat kehormatan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini karena memang hanya manusialah yang menyatakan sanggup melakukannya. Manusia diberi kewenangan untuk menjaga dan memelihara bumi Allah sesuai ketentuan Allah dan sestai dengan kemampuan luar biasa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Dengan kelebihan-kelebihan seperti itu manusia berpeluang besar untuk mendapatkan surga dengan tingkatan yang lebih tinggi dari malaikat. Surga memang disediakan untuk manusia-manusia yang selalu bersyukur, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah dengan memaksimalkan semua kelebihan yang telah diberikan kepada manusia itu sendiri.

Maka dari itu, optimaslah menjadi manusia, berbanggalah menjadi manusia, dan selalu berhusnudzonlah kepada Allah. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan pantas mendapatkan kesempurnaan pula yaitu surga.

Selasa, 17 Januari 2012

Hakikat Kebahagiaan


Banyak orang yang berusaha mencari kebahagiaan dengan cara bekerja keras siang dan malam, namun mereka tidak menemukan kebahagiaan itu. Mereka mencari kebahagiaan dengan bekerja keras di tempat-tempat yang jauh dan menggunakan cara apapun untuk menemukan kebahagiaan tersebut, namun tidak jarang yang mereka dapatkan justru hanya keletihan, ketidak puasan, dan kegelisahan. Lalu mereka mulai bertanya-tanya apakah sebenarnya kebahagiaan itu ?

Kebahagiaan tidak dapat dilepaskan dari perasaan karena tempat kebahagiaan itu ada di hati, dan orang yang paling bisa mengatur suasana hati seseorang hanyalah orang itu sendiri, artinya bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ada di luar diri dan harus dicari, melainkan sesuatu yang bisa diciptakan di dalam diri.

Penciptaan kebahagiaan dalam diri hanya dapat dicapai dengan satu cara yaitu melalui memperbanyak rasa syukur kepada Allah dalam keadaan apapun. Kesalahan banyak orang yang tidak bahagia dalam hidupnya adalah mereka keluar dan bekerja keras mencari kebahagiaan, sedangkan mereka tidak berpikir bahwa kebahagiaan itu sebenarnya bisa mereka ciptakan sendiri dalam hidup mereka dengan memperbanyak kesyukuran kepada Allah. Rasa syukur yang senantiasa kita panjatkan kepada-Nya akan memberikan imbas postif bagi ketenangan hati sehingga suasana hati akan selalu tenang dan merasa cukup dengan segala nikmat Allah yang akhirnya menjauhkan keluhan-keluhan tentang kesulitan hidup yang selalu menjadi penghambat utama bagi terciptanya kebahagiaan.

Jadi, kebahagiaan itu dapat dinikmati oleh siapapun juga, dalam keadaan apapun karena sesungguhnya setiap orang dapat menciptakan kebahagiaannya sendiri. Perbanyak bersyukuran kepada Allah, nikmati dan maksimalkan apa yang ada sekarang, dan jauhkan keluhan-keluhan tentang kesulitan hidup, maka insya Allah kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mahal dan langka dalam kehidupan siapapun.

Tawakal Kepada Alloh SWT

Tawakal adalah sikap bergantung kepada Alloh dan menyerahkan segala sesuatu kepada Alloh SWT. Dalam QS Al Maidah: 23, bertawakal hanyalah kepada Alloh dan bukan yang lain.

Namun persoalannya, apakah dengan menyerahkan segala urusan kepada Alloh SWT, lalu manusia tidak mempunyai kewajiban ikhtiar ?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasululloh mengibaratkan orang yang bertawakal kepada Alloh seperti burung yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang. Ini berarti kepergian burung tersebut adalah untuk berikhtiar mendapatkan rizki yang telah disediakan oleh Alloh di alam sekitarnya.

Dari hadits di atas, dapat kita pahami bahwa ikhtiar dalam mendapatkan rizki dari Alloh itu tetap wajib dilakukan oleh setiap orang. Seseorang tidak akan kenyang jika ia tidak makan, tidak akan pandai jika tidak belajar, dan yang terpenting tidak akan masuk surga jika tidak berikhtiar dengan beribadah di dunia ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa hukum sebab akibat tetaplah berlaku dan merupakan sunatulloh. Untuk itulah, Alloh melalui firmanNya surat Ar Ra'du: 11, memerintahkan kita untuk merubah nasib kita sendiri, karena tanpa usaha untuk merubahnya Alloh tidak akan merubahnya.

Sebagai sebuah kesimpulan, ada 3 poin penting dalam tawakal, yaitu:
1. Meniatkan segala yang akan kita usahakan hanya untuk ibadah kepada Alloh
2. Berikhtiar sesuai kemampuan dan potensi yang telah diberikan Alloh sebagai sarana mendapatkan rizki yang telah disediakan oleh Alloh SWT.
3. Menyerahkan segalah hasil dari ikhtiar yang telah kita lakukan hanya kepada Alloh SWT.

Kata kunci dari uraian diatas adalah "yang kita serahkan sepenuhnya kepada Alloh bukanlah ikhtiar, melainkan hasil dari ikhtiar".

Cobaan Membawa Berkah

Cobaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Tidak ada satupun manusia yang hidup tanpa cobaan dari Alloh. Dalam QS. Al Baqarah: 155 dijelaskan bahwa ada beberapa cobaan yang ditimpakan kemada manusia seperti ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.

Namun dalam ayat selanjutnya, ayat 156, mengisyaratkan bahwa dari berbagai cobaan yang ditimpakan kepada manusia itu, manusia akan mempelajari sesuatu yang tidak akan dia pelajari jika dia tidak dicoba, yaitu sikap sabar. Sabar adalah sikap menahan diri dari segala yang tidak disukai, yaitu cobaan-cobaan kehidupan baik berupa kesenangan maupun kesusahan, untuk mengharap rido Alloh SWT. Sikap sabar yang telah dipelajari oleh manusia dari berbagai cobaan itu akan mendatangkan berkah, rahmat, dan petunjuk dari Allah (ayat 157).

Adapun petunjuk yang dimaksud oleh ayat di atas adalah bisa jadi petunjuk menuju jalan keluar atas segala cobaan yang ditimpakan kepada manusia karena pada dasarnya ada 3 poin penting dari berbagai cobaan yang ditimpakan oleh Alloh kepada manusia, yaitu:
1. Jika Alloh menimpakan cobaan/kesulitan kepada manusia, pada akhirnya Dia akan mendatangkan jalan kemudahan (QS. Al Insyirah 5-6).
2. Cobaan yang ditimpakan kepada manusia, disesuaikan dengan tingkat kemampuannya, sehingga manusia dapat menyelesaikannya sendiri (QS. Al Baqarah: 286).
3. Alloh sangat menghargai usaha manusia dalam upayanya menyelesaikan cobaan/kesulitannya sendiri, sehingga mampu merubah nasibnya sendiri (QS. Ar Ra'du: 11).

Dari berbagai penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa sikap sabar memanglah sangat diperlukan dan sangat ditekankan oleh Alloh. Kita sebagai manusia yang dikaruniai kemampuan berikhtiar oleh Alloh seperti yang dijelaskan dalam 3 poin penting di atas, haruslah memiliki sikap sabar dalam berikhtiar untuk menemukan jalan keluar terbaik yang telah disediakan oleh Alloh bagi hamba-hambanya yang bersabar dalam menghadapi cobaan hidupnya. Jadi, marilah senantiasa kita menjadi orang-orang yang bersabar dalam menghadapi cobaan, orang-orang yang selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan, orang-orang yang selalu menghindar dari keluhan-keluhan terhadap permasalahan hidup, dan orang-orang yang selalu ingat kepada Alloh sebagai dzat yang akan selalu mendampingi kita disaat susah maupun senang, sehingga kita akan mendapatkan jalan keluar yang terbaik dari segala permasalahan hidup kita, dan pada akhirnya kita akan mendapatkan kemuliaan kehidupan di dunia dan akhirat.

Kamis, 10 November 2011

Semangat Dalam Hukum Fisika

Semangat adalah energi yang dapat mengubah nasib menjadi lebih baik. Seperti hukum kekekalan energi dalam fisika bahwa kita tidak dapat dengan sengaja menciptakakn atau memusnahkan semangat itu, namun kita dapat merubah wujud semangat itu yaitu menjadi suatu perbuatan nyata yang mampu merubah hidup kita. Semangat dalam berikhtiar dengan ketekunan dan semangat dalam berdoa dengan kesungguhan adalah perubahan wujud dari semangat yang kuat di dalam hati.

Ingat bahwa energi dapat menghasilkan gerak dan gerak akan menghasilkan perpindahan. Jadi, bersemangatlah dalam menjalani kehidupan jika kita ingin menggerakkan kehidupan dari posisi keterpurkan menuju posisi kebahagiaan.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Cinta Tidak Pernah Salah

Cinta memang bagaikan pisau. Dia akan membantu menyajikan makanan yang enak bila digunakan oleh seorang koki. Namun dia juga bisa melukai bahkan membunuh orang lain jika digunakan oleh seorang pembunuh.

Jadi, cinta itu tidak bisa disalahkan karena hanya sebagai alat penghubung. Yang salah adalah pelaku yang menggunakan cinta tersebut sebagai alat untuk melukai orang lain.

Jadi, marilah gunakan cinta sebaik-baiknya, gunakan cinta untuk mempersatukan kita dengan orang-orang disekitar kita agar tercipta hubungan yang damai dan harmonis, karena sesungguhnya itulah tujuan diciptakannya cinta.

Dua Senjata Ampuh Manusia

Kita sebagai manusia memiliki dua senjata ampuh sebagai pengendali arah hidupnya yaitu hati dan akal pikiran. Hati adalah tempatnya emosi, yaitu segala perasaan senang, sedih, amarah dll. Sedangkan akal pikiran adala tempatnya logika untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

Kedua senjata tersebut harus selalu seimbang dalam menjalankan fungsinya dan jangan biarkan salah satu diantarnya mendominasi diri kita. Jika kita selalu mengedepankan emosi dibanding logika, maka kita akan sulit mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kita. Demikian juga jika logika selalu berada di depan, maka kita akan sulit mendapatkan rasa nyaman dan tentram dalam hidup.

Jadi, kejernihan hati dan kekuatan akal pikiran harus selalu berjalan searah dan seimbang untuk membentuk pribadi yang baik dan mulia dihadapan banyak orang dan dihapan Allah.